Jumat, 26 November 2010

Cadangan Devisa Tahan Risiko Pembalikan Modal

Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya mengatakan, cadangan devisa yang saat ini mencapai US$ 91,8 miliar dapat mengurangi risiko kemungkinan pembalikan modal asing secara tiba-tiba.
“Secara tidak terasa cadangan devisa mencapai US$ 91 miliar, dibandingkan tahun lalu yang hanya 66 miliar dolar. Ini memberikan confidence kepada otoritas dalam menjaga mengurangi risiko sudden reversal,” ujarnya dalam seminar nasional Ikatan Bankir Indonesia di Jakarta, Rabu (24/11).

Budi Mulya mengatakan, BI dan pemerintah akan mengoptimalkan keuntungan dari masuknya aliran modal asing (capital inflow) karena dapat memberikan efisiensi pada kegiatan usaha industri manufaktur dan investasi.
Capital Inflow memberikan penurunan yield, baik di pasar saham maupun utang, kalau itu terjadi borrowing cost-nya turun sehingga insentif untuk pembiayaan financing kegiatan usaha dan investasi meningkat karena biaya dana turun,” ujarnya.
Sedangkan bagi otoritas moneter seperti BI, dengan penerapan kebijakan yang tepat, masuknya modal membuat inflasi tetap terjaga dan nilai apresiasi rupiah lebih kompetitif dibandingkan negara-negara Asia lain.
“Masuknya capital inflow memberikan penguatan dalam ekspektasi inflasi, itu punya kontribusi positif. Kita tetap melihat masuknya modal, tidak merusak competitiveness karena negara kompetitor mengalami hal (inflow) yang sama. Kalau dihitung tingkat apresiasi rupiah, level apresiasi tidak setajam negara-negara lain,” ujarnya.
Ia mengharapkan masuknya aliran modal kepada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) maupun pasar saham dapat memberikan dampak kepada sektor riil, bukan sekedar mampir di pasar keuangan.
“Masuknya (modal) ke SBN dan pasar saham memberikan impact ke sektor riil, kita berharap bukan pasar keuangan. (Diharapkan) pindah ke pasar nyata seperti penanaman modal asing (PMA), apalagi realisasi pada 2010 jauh meningkat dibanding 2009,” ujar Budi.
Menurut dia, otoritas moneter lebih siap dalam memahami aliran modal asing karena apa yang terjadi saat ini berbeda situasinya dengan aliran modal pada Oktober 2008 dan Mei 2010 serta faktor penyebabnya lebih dinamis.
“Faktor yang mempengaruhi inflow semakin dinamis, kalau Mei lebih karena kejadian di Yunani dan beberapa otoritas pelaku pasar telah mendalami lesson learn apa yang terjadi di 2008. Kan semuanya fokus atas pemahaman itu. Ini menjadi pembelajaran dan penyiapan bagi otoritas moneter,” ujarnya.
Pemerintah dan BI dalam menyikapi serta melakukan perbaikan ekonomi pada tahun mendatang juga akan terus memberlakukan kebijakan fiskal yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan dan pengaturan likuiditas dalam pengelolaan risiko.
Hingga pertengahan Oktober 2010, nilai instrumen SBI terutama Surat Utang Negara (SUN) telah mencapai Rp180 triliun, sementara arus modal yang terparkir dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berada dalam kisaran Rp160 triliun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar