Jumat, 26 November 2010

BI: Terjadi gejala deindustrialisasi

Oleh: Hendri T. Asworo
JAKARTA: Bank Indonesia mengingatkan bahwa sektor manufaktur nasional mengarah kepada deindustrialisasi sejalan dengan tingginya tren ekspor bahan mentah jika dibandingkan dengan produk olahan.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan ancaman deindustrialisasi merupakan tantangan ke depan Indonesia dari sisi domestik di tengah berbagai pencapaian positif perekonomian nasional.

"Peran dari industri berbasis sumberdaya alam terus menguat. Jika dibiarkan, persoalan ini bisa mengarah pada deindustrialisasi," tegasnya dalam sambutan tertulis yang disampaikan Kepala Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Moneter BI Sugeng dalam acara Market Outlook 2011, siang ini.

Menurut dia, acaman deindustrialisasi dapat berdampak pada penurunan nilai tambah industri nasional dan tergerusnya produktivitas ekonomi.

Lebih jauh lagi, sambungnya, hal itu tidak menguntungkan di tengah persoalan pengangguran dan kemiskinan yang masih dihadapi Indonesia.

"Kehadiran industri padat karya masih dibutuhkan," ujarnya.

Selain itu, ungkapnya, industri manufaktur domestik juga masih kental dengan muatan ekspor. "Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dibarengi dengan naiknya impor secara signifikan, sehingga berdampak pada penurunan surplus pada transaksi neraca berjalan." (htr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar