JAKARTA (SINDO) – Bank Indonesia (BI) diharapkan tidak menaikkan suku bunga acuan BI (BI Rate) untuk mengelola inflasi.Jika BI Rate dinaikkan dapat meningkatkan arus modal asing (capital inflow).
Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik akan ada potensi bubble. ”Saya tidak yakin BI akan menaikkan BI Rate karena akan membuat capital inflow mengalir terus, tetapi jika BI tidak membimbing ekspektasi inflasi, maka inflasi akan naik,” kata ekonom Universitas Indonesia (UI) Chatib Basri dalam seminar Economic Outlook 2011 Memanfaatkan Momentum Investasi dan Ekspansi di Hotel JW Mariott Jakarta, kemarin.
Menurut dia, inflasi tahun depan akan mengalami peningkatan yang ditargetkan bisa mencapai 7–7,5%,lebih tinggi dari perkiraan tahun ini 6–6,5%.Untuk mengelola hal ini, BI kemungkinan akan menaikkan kembali Giro Wajib Minimum (GWM) dibandingkan menaikkan BI Rate yang saat ini berada di level 6,5%.”Kemungkinan BI akan menggunakan rasio persyaratan cadangan/GWM,” katanya.
Chatib Basri mengatakan, pendorong inflasi pada 2011 hingga bisa mencapai 7–7,5% adalah meningkatnya harga pangan dan harga minyak dunia yang kemungkinan lebih tinggi pada tahun depan. ”Situasi global sangat bergejolak,” tutur dia. Kendati demikian, capital inflow yang deras tidak akan berhenti.Saat ini masih tahap awal karena akan ada yang lebih besar lagi dana yang masuk ke emerging market seiring dengan recovery Amerika Serikat dan Eropa.
Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi Sarwono mengingatkan derasnya capital inflow ke Indonesia bisa membawa bencana bagi negara ini, jika tidak dijaga dan dikelola dengan baik. ”Capital inflow bisa jadi tsunami bagi Indonesia kalau kita tidak berjaga-jaga dengan baik,”katanya. Hartadi mengatakan, bila AS tidak bisa menyerap dana stimulusnya maka aliran modal tersebut akan masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Bahkan ke depan akan semakin besar jumlahnya.Untuk itu, salah satu kebijakan moneter yang dilakukan oleh BI adalah memupuk cadangan devisa sebesar mungkin untuk mengantisipasi, jika terjadi pembalikan modal. Peningkatan cadangan devisa secara year to date dari akhir tahun lalu sampai Oktober 2010, Indonesia merupakan negara kedua yang penambahannya terbesar.
Indonesia bisa menambah USD25 miliar hingga USD26 miliar, sedangkan peringkat pertama ditempati Brasil yang meningkatkan cadangan devisa sebesar USD45 miliar. ”Negara-negara lain juga melakukan jaga-jaga kalau terjadi instability reversal, ”paparnya. Dana yang masuk tersebut menarik untuk diinvestasikan ke dalam instrumen moneter, yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI masih mempunyai imbal hasil yang tinggi,selain itu merupakan instrumen yang sangat likuid.
”Betulbetul SBI itu seksi untuk investorinvestor kita. Coba alihkan supaya tidak masuk ke SBI sebaiknya masuk ke riil sektor dan SUN yang bisa dibiayai ke ekonomi,”katanya. Namun,dengan kebijakan yang telah dikeluarkan BI saat ini untuk mengurangi instrumen jangka pendek, yaitu membatasi kepemilikan SBI minimal 1 bulan dan memperpanjang tenor SBI menjadi 6 dan 9 bulan, maka investor asing yang mencari instrumen moneter semakin berkurang. Dananya tidak mengalir ke jangka pendek dan lebih ke jangka panjang. Selain itu, untuk membatasi jumlah modal asing di SBI, maka bank sentral telah membuat instrumen deposit yang mirip dengan SBI. (bernadette lilia nova)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar