Oleh: Makmun
Peneliti dan Pengamat Ekonomi
Dalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda dunia 2008 yang lalu China menerapkan strategi dengan memperbaiki kinerja industri dalam negeri. Targetnya adalah industri membaik dan ekspor meningkat. China tidak memperdulikan pelemahan kurs mata uangnya. Malahan mata uang China sampai dipaksa oleh Amerika Serikat untuk menguat, karena produk China terlalu kompetitif.
Akibat strategi yang diterapkan China, kini banyak negara yang merasa dirugikan, karena daya saing ekspornya melemah. Gejolak paling besar menyangkut perang mata uang saat ini adalah antara China dan Amerika Serikat (AS). AS selama bertahun-tahun selalu mengeluhkan kebijakan China yang dengan sengaja menekan nilai mata uangnya yang menyebabkan neraca perdagangan antara kedua negara menjadi timpang. Bahkan sebagai reaksinya, AS terus menekan China agar segera melepas intervensi mata uangnya terhadap dolar.
Langkah AS menekan China kini diikuti oleh sejumlah negara maju dengan cara menggelontorkan mata uangnya di pasar valas. Tujuannya adalah untuk melemahkan nilai tukar dan membantu ekspor negaranya. Dunia pun kini seolah tengah dilanda perang mata uang rendah. Tentunya langkah itu memicu kemarahan pengambil kebijakan di sejumlah negara, karena akan menurunkan daya saing sehingga akan mengancam kinerja ekspor. Sebagaimana diketahui bahwa belakangan ini terjadi aksi intervensi dari sejumlah negara dari Kolombia hingga Singapura dengan melakukan pembelian mata uang lokal di pasar valas dengan harapan membuat ekspor lebih murah.
Ketegangan terakhir terjadi antara Uni Eropa dengan China. Rendahnya nilai tukar yuan membuat Uni Eropa khawatir pasarnya akan terganggu oleh barang-barang China. Perang mata uang juga dikhawatirkan akan menimbulkan ancaman nyata pada pemulihan ekonomi dunia. Untuk itu Uni Eropa berharap adanya kerjasama dengan baik selama terjadinya krisis finansial. Sengketa mata uang menunjukkan bahwa negara-negara dunia tidak bekerjasama dengan baik selama terjadinya krisis finansial.
Nampaknya jalan buntu untuk mencari solusi terbaik atas sulit didapatkan. Bahkan masalah perang mata uang ini akan digendakan dalam sidang G-20. Dalam pertemuan puncak G20 di Seoul akan dijadwalkan pembahasan sejumlah topik bahasan yang belum selesai, termasuk diantaranya mengenai nilai tukar, yang memerlukan koordinasi internasional.
Berkah bagi Indonesia
Perang mata uang antara China dengan sejumlah negara maju hingga kini belum berdampak pada Indonesia. Setidaknya hal ini ditunjukkan dengan nilai ekspor Indonesia yang masih terus meningkat. Namun apabila ditelusuri lebih jauh, ternyata meningkatnya ekspor Indonesia masih didominasi oleh sektor pertambangan, dimana sektor ini merupakan sektor unggulan Indonesia yang mungkin belum dapat dikalahkan oleh China. Sementara itu peningkatan ekspor barang tambang juga di didukung dari naiknya seluruh harga barang tambang di pasar internasional yang mencapai 8,5%.
Ekspor Indonesia dari sektor pertambangan dalam periode Januari-Agustus 2010 mengalami kenaikan sekitar 47,4% atau sekitar US$17,2 miliar dibandingkan dengan periode yang sama untuk 2009 yang tercatat US$11,6 miliar. Sementara itu untuk sektor pertanian naik tipis dari US$2,8 miliar menjadi US$3,2 miliar. Naiknya eskpor sektor pertanian juga ditopang peningkatan harga serta didorong rendahnya suplai karena cuaca buruk.
Selain sektor pertambangan, selama periode Januari-Agustus 2010 total ekspor non-migas Indonesia sudah mencapai US$81,7 miliar atau meningkat 36,25%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk diversifikasi produk ekspor non-migas mengalami perubahan dari 10 produk utama antara lain TPT mencapai US$6,375 miliar, sawit US$5,55 miliar, elektronik US$5,785 miliar, kakao US$ 898,8 juta, produk karet US$5,159 miliar, produk hasil hutan US$5,02 miliar, alas kaki US$1,413 miliar, otomotif US$1,339 miliar, kopi US$383 juta dan udang US$ 527,4 juta. Sehingga total ekspor Indonesia selama 8 bulan ini sudah mencapai US$98,7 miliar atau naik 40,42%.
Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Agustus 2010 yang lalu Indonesia memecahkan rekor kenaikan nilai ekspor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, rekor ekspor tertinggi terjadi pada Desember 2009. Sepanjang Januari-Agustus 2010 (year to date/ytd), nilai ekspor Indonesia telah mencapai USD98,71 miliar atau mengalami kenaikan drastis 40,42 persen dibandingkan periode sama 2009. Sementara itu nilai impor selama periode Januari-September 2010 telah mencapai USD87,78 miliar atau naik 46,87 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Melihat neraca perdagangan pada Agustus, Indonesia kembali mengalami surplus sebesar USD1,49 miliar.
Harus diakui bahwa perkembangan ekspor di atas tidak terlepas dari bergesernya dominasi tujuan ekspor Indonesia. Pemerintah mulai melirik membuka pasar tujuan ekspor yang lebih luas dan minim risiko dari imbas krisis ekonomi global. Sehingga pemerintah mulai melakukan diversifikasi atau membuka peluang pasar yang baru untuk barang ekspor. Meski strategi yang ditempuh pemerintah cukup berhasil, ke depan pemerintah juga perlu mengubah struktur ekspor sehingga tidak lagi didominasi barang mentah atau sumber daya alam. Untuk itu pemerintah juga perlu melakukan pembenahan agar barang ekspor kita didominasi sektor manufacturing.
Tentunya ini adalah moment yang sangat tepat, mengingat belakangan ini aliran foreign direct investment (FDI) yang masuk ke Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan catatan Royal Bank of Scotland (RBS), FDI yang masuk selama periode Januari-Juni didominasi oleh Singapura sebesar 38,9%, disusul Eropa 19,8% dan Malaysia 11,5%. Disamping itu dari Jepang 10,3% dan China 2,6%, sementara dari AS turun 2,5%.
FDI mengalir ke beberapa sektor, diantaranya yang dominan ke sektor manufaktur hampir melebihi US$1,5 miliar. Kemudian transportasi dan komunikasi, perdagangan besar dan retail serta pertambangan dan granit. Dengan meningkatnya aliran FDI ini, tentunya semakin menambah kepercayaan diri pemerintah untuk meningkatkan kinerja ekspor di masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar