Oleh: Prof. Firmanzah Ph.D
Dekan Fakultas Ekonomi UI
Potensi krisis utang Irlandia yang sekarang menjadi ancaman setelah krisis utang Yunani selesai memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan di dunia. Yield surat utang Irlandia dalam beberapa minggu terakhir telah melonjak dari 6% menjadi 9% yang mencerminkan tingkat resiko surat utang yang semakin besar sehingga insentif untuk investor yang memegang surat utang ini perlu ditingkatkan. Di pasar regional,imbas sentimen negatif ini mempengaruhi volatilitas pasar saham regional dan juga mempengaruhi pasar saham Indonesia beberapa minggu terakhir.
Kondisi ini mengingatkan kita kepada masa tahun 2008 ketika terjadi krisis keuangan yang melumpuhkan pasar saham dunia dan membuat banyak institusi keuangan kolaps. Pada saat itu, investor menahan diri untuk melakukan ekspansi, sehingga pendanaan yang diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pun menjadi sulit berkembang. Belajar dari krisis tahun 2008, maka Indonesia dapat mengantisipasi potensi krisis ini dengan meningkatkan kesiapan dalam pendanaan dan rencana aksi untuk melakukan akselerasi perekonomian .
Krisis Irlandia tidak luput dari perhatian serius sejumlah Kepala Negara G-20 yang kini terus berupaya mempertahankan momentum pemulihan ekonomi dunia. Meski belum ada rumusan jelas bagaimana menyelamatkan krisis imbal hasil obligasi Pemerintah Irlandia itu, masyarakat Uni Eropa yang menjadi investor obligasi tersebut diminta menanggung biaya penyelamatan jika muncul krisis yang tidak diharapkan. Permintaan itu justeru menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Dampaknya, investor terus menekan harga obligasi yang kian memicu imbal hasil terus meroket. Sekadar perbandingan, selisih antara imbal hasil obligasi Irlandia dan obligasi Pemerintah Jerman yang menjadi acuan obligasi di Eropa meroket menembus 680 basis poin. Kondisi keuangan Irlandia memang termasuk yang mengkhawatirkan di antara anggota Uni Eropa lainnya dengan defisit anggaran yang mencapai 32% dari PDB.
Pendanaan seperti dana stimulus dapat menjadi satu alternatif untuk meningkatkan geliat perekonomian, berdasarkan proses penanggulangan krisis tahun 2008, dana stimulus ini telah berhasil memberikan pengaruh bagi perbaikan perekonomian dunia, begitu juga Indonesia.
Alokasi dana stimulus ini juga perlu dipertimbangkan desainnya, berapa besar yang masuk ke infrastruktur dan berapa besar yang dialokasikan untuk keringanan pajak ekspor impor. Pro kontra alokasi dana stimulus yang dilakukan oleh pemeritah Indonesia pada tahun 2009 silam, dapat menjadi pengalaman berharga bagaimana efektivitas dana stimulus yang dialokasikan dan berapa besar tingkat penyerapan dana stimulus ini ke dalam program-program pemerintah seperti infrastruktur.
Selain dana stimulus yang perlu dipersiapkan jika terjadi krisis, kita juga perlu mengapresiasi kinerja pemerintah yang sudah dari jauh-jauh hari bersikap hati-hati dalam membangun fundamental perekonomian Indonesia. Berbagai program kerja seperti pembangunan infrastruktur, penetapan defisit anggaran yang kecil, dan kinerja tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah meningkatkan kepercayaan investor akan perekonomian Indonesia. Kinerja ini perlu terus dipertahankan menjelang tahun 2011 sehingga berbagai sentimen negatif yang dapat menjadi potensi krisis dapat diminimalisir dengan bekal kekuatan fundamental perekonomian tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar